Mengenang Sang Guru Geografi, Ustad Suwarso
![]() |
| Foto : Facebook Ust. Suwarso |
DIA - salah satu guru kami - telah pergi. Aku bersaksi: ia pergi bersama kebaikan-kebaikan yang menyertai. Seorang guru dengan pembawaan yang kalem, penuh senyum dan tak banyak marah (atau barangkali ia tahu bagaimana menunjukkan marah dengan elegan). Dari dia, kami menimba pelajaran-pelajaran Geografi.
Saat ia memasuki kelas, kami akan terdiam. Sebagian menyimak lantaran cara dia menyampaikan mengalir dengan tutur yang mampu membuat kami paham. Sebagian lagi juga ikut memilih diam karena tahu ketenangannya membuat kami segan.
Seorang kawan, inisial M, memberikan testimoni yang baik: beliau mampu mendisiplinkan santri hanya dengan ‘Ngaloduk Eber.’
Ungkapan M mengungkapkan bahwa guru kita ini - dengan segala kebaikan menyertainya - tak perlu mengungkapkan secara blak-blakan kemarahannya. Bahkan kadang ia hanya datang ke lokasi mana para santri masih berkeliaran (kata lain dari bermalas-malasan untuk sekolah atau ngaji), lalu duduk diam di sana, saat itu kami sudah langsung bergegas: buru-buru meninggalkan kemalasan, atau menjadi disiplin secara instan.
*
Namun aku punya cerita lain yang ada kaitannya dengan sang guru (kebaikan menyertai kepergiannya yang abadi).
Ini tentang seorang kawan. Inisial M. Saat pembuka cerita tentang si M ini aku sampaikan kepada seorang kawan yang lain, si O, ia membalas dengan kalimat yang sangat yakin, bahkan aku tak bisa lain kecuali setuju.
“Inisial M mudah diterka dengan segala kedekilannya,” katanya. “Ini sejenis praduga yang sudah pasti benar.”
Kawanku - si O ini - generasi yang jauh dari angkatan kami. Tapi dari cara ia mendeskripsikan si M sebagai dekil, rasanya dia tahu persis siapa si M ini. Rasanya apa yang ada di kepalaku dan di kepalanya sepenuhnya terkoneksi dengan presisi: bahwa kami berbicara tentang sosok M atau si Dekil yang sama.
Siapa yang tak kenal M? Julukan pengembara melekat pada dirinya. Ia biasa bertualang dari pondok ke pondok, dari blok ke blok, dan kemampuannya berteman tak diragukan. Juga tak diragukan keberaniannya melanggar banyak aturan. Aku akan bilang: (maaf kawan) dia memang super menjengkelkan saat itu (dan harus aku akui saat ini dia mendadak menjadi orang dengan relijiusitas tingkat super).
*
Berbekal ingatan yang tak terlalu baik ini, aku mencoba mendeskripsikan sedikit saja latar tempat di mana si M berada.
Kamar atau pondok si M itu ada di barisan belakang - sesuai urutan bloknya: blok E. Pondok itu sambung menyambung dengan beberapa kamar lain, berderet dari barat ke timur. Pondok si M ada di deret kedua dari barat. Deret pondok itu berhadapan dengan dengan deretan kamar/pondok di sebelah selatannya, yang juga berderet dari barat ke timur atau timur ke barat (tergantung di titik mana kau berdiri). Kedua deret pondok itu dibelah oleh halaman kecil agak berbatu dengan keadaan halaman melandai dari barat ke timur seperti undakan tapi tak persis.
Saat itu siang. Sehabis sholat dzuhur. Jam sekolah siang (Madrasah) sudah memasuki jam pelajaran. Sekitar pondok sepi. Tak seorang pun berkeliaran di luar kelas, kecuali M yang saat itu dipeluk mimpi. Ia tak pernah bercerita apakah ia tidur dengan mimpi yang indah, sesuatu yang membuatnya nyenyak, nyaman dalam pelukan tidur siang itu. Tapi hari itu akan diingat oleh M sebagai kenangan yang abadi. Ia tak bisa lupa hingga bertahun-tahun kemudian, bahkan hingga saat ini.
Guru kami (yang telah pergi dengan kebaikan menyertai) berkeliling di sekitar pondok, memantau keadaan dari pondok ke pondok. Peninjauan itu - aku tak sempat bertanya - mungkin disengaja atau tidak telah membawanya pada satu situasi pahit dan panggilan moral yang tak bisa ditunda. Ia mendapati M dalam pelukan mimpi.
Maka yang terjadi kemudian: si M kaget, membuka mata, dan ia mencium wajan hitam yang tiba-tiba sudah ada tepat (persis) di depan wajahnya.
Mendengar kisah itu, kami tak bisa menahan tawa. Tapi adegan di hari itu, tak ada tawa dari guru kami dan M. Barangkali guru kami menyimpannya dengan baik sebagai kelucuan yang tak perlu ditertawakan. Sebaliknya si M tak sempat tertawa. Kepanikan atas kesalahan (atas kemalasan yang membuatnya tertidur di saat semua orang belajar) membuatnya menunda untuk tertawa. Mungkin suatu saat, ketika seluruh kepanikan itu luruh, ia akan menertawakan kejadian itu.
M bangun. Ia raih apapun yang terjangkau di pondoknya: sarung, pakaian, peci, buku dan pensil. Sandal swallow dengan bagian belakang tipis (nyaris bolong) sudah terpasang di kakinya. Ia hanya tahu satu hal saat itu: menunda kemalasan, bergegas berangkat menuju Madrasah.
M telat menyadari dan kehebohan sudah terlanjur menyebar. Hari itu, M tak ubahnya badut dengan wajah belepotan hitam bekas wajan yang menempel di ujung hidungnya, pada bibirnya, dan pipinya.


Posting Komentar