Suka Duka Tinggal dan Hidup di Desa. Benarkah Bisa Slow Living?
Bicara kehidupan di desa sering kali memunculkan imajinasi tentang udara yang sejuk, hamparan ladang yang hijau, dan kehidupan yang damai jauh dari hiruk-pikuk dan kemacetan kota metropolitan.
Bayangan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Jika Anda berkunjung ke Desa Dempo Barat misalnya, Anda akan disambut oleh potret lingkungan yang asri dan sarat akan nilai-nilai luhur.
Desa ini merupakan salah satu desa dengan kegiatan keagamaan dan pendidikan yang kental, dibuktikan dengan berdirinya pondok pesantren dan lembaga pendidikannya. Desa ini sendiri terletak di ujung utara Kabupaten Pamekasan atau sekitar satu jam perjalanan menuju pusat kota.
Masyarakat Dempo Barat juga dikenal sangat religius dan memiliki ikatan sosial yang luar biasa. Semangat gotong royong masih mengakar kuat dan menjadi napas dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian besar warganya menggantungkan hidupnya pada kemurahan alam, bekerja keras sebagai petani dengan komoditas unggulan berupa pertanian jagung dan tembakau yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal.
Namun, di balik segala ketenangan, keindahan, dan kehangatan sosial tersebut, tinggal di desa nyatanya tidak selalu seindah yang kita bayangkan.
Kenyataannya hidup di desa tidak sesederhana yang kita pikirkan. Dibutuhkan kesiapan mental dan finansial yang cukup agar kita bisa hidup dengan tenang dan aman di desa.
Berikut adalah lima tantangan atau kekurangan yang mau tidak mau harus dihadapi ketika menetap di desa:
1. Pemadaman Listrik Jadi Sahabat Sehari-hari
Infrastruktur kelistrikan di pedesaan sering kali masih rentan terhadap gangguan alam. Di desa, aliran listrik yang tiba-tiba padam seolah sudah menjadi rutinitas, terutama saat musim hujan atau angin kencang tiba.
Penyebab utamanya sangat klasik: banyaknya pepohonan rindang di sekitar pemukiman yang ranting atau batang besarnya kerap patah dan menimpa tiang maupun kabel listrik.
Bagi mereka yang terbiasa mengandalkan perangkat elektronik—seperti bekerja dengan laptop atau sekadar ingin menikmati hiburan dari gawai—pemadaman listrik ini tentu menjadi ujian kesabaran yang menuntut kita untuk selalu siap sedia dengan powerbank atau lampu darurat.
2. Biaya Sosial Tak Terduga dan Cukup Tinggi
Ikatan persaudaraan dan gotong royong yang kuat ternyata juga membawa sisi negatif. Tinggal di desa berarti kita adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah keluarga besar.
Hal ini berdampak pada tingginya biaya sosial yang harus dikeluarkan akibat banyaknya kegiatan kemasyarakatan yang sifatnya tak terduga. Mulai dari tradisi menjenguk tetangga yang baru melahirkan, bertakziah ketika ada warga yang meninggal dunia, memenuhi undangan pernikahan (kondangan), hingga berbagai iuran dan sumbangan perayaan lainnya.
Meski niatnya mulia untuk menjaga silaturahmi, pengeluaran sosial semacam ini harus dianggarkan dengan cermat agar tidak mengganggu stabilitas keuangan rumah tangga.
3. Tuntutan untuk Pintar Bergaul
Di kota besar, Anda mungkin bisa hidup bertahun-tahun tanpa mengetahui siapa nama tetangga di sebelah rumah. Namun, jangan harap hal itu bisa terjadi di desa.
Hidup di tengah komunitas masyarakat desa menuntut setiap warganya untuk aktif bersosialisasi dan pintar bergaul. Privasi adalah barang mewah di sini. Jika Anda termasuk tipe orang yang gemar mengurung diri di dalam rumah atau jarang terlihat dan terlibat dalam kegiatan warga, bersiaplah untuk menjadi sorotan.
Sikap kurang bergaul akan dengan mudah menjadikan Anda sebagai bahan perbincangan alias gibahan hangat di kalangan tetangga.
4. Minimnya Lapangan Pekerjaan
Meski sektor pertanian jagung dan tembakau terus berjalan, faktanya sektor ini tidak selalu bisa menampung seluruh angkatan kerja yang ada.
Terbatasnya variasi lapangan pekerjaan yang menjanjikan di luar sektor agraris menjadi tantangan besar, terutama bagi generasi muda. Kondisi inilah yang membentuk karakter dan budaya orang Madura yang gemar merantau. Di Desa Dempo Barat sendiri, sebagian besar pemudanya memilih untuk mengadu nasib ke luar daerah atau merantau ke kota-kota besar.
Salah satu fenomena yang paling ikonik adalah keberanian mereka dalam merintis dan menjaga "Warung Madura" yang kini menjamur di berbagai kota, demi satu tujuan mulia: memperbaiki kondisi ekonomi keluarga di kampung halaman.
5. Infrastruktur Digital Tertinggal
Saat ini di mana informasi bergerak secepat kilat, kesenjangan infrastruktur digital antara kota dan desa masih sangat terasa.
Ketika masyarakat di kota-kota besar sudah mulai menikmati layanan internet super cepat dengan teknologi 5G, masyarakat desa umumnya harus puas dengan kualitas jaringan yang masih sebatas 4G—itu pun terkadang sinyalnya tidak stabil.
Belum lagi ketersediaan jaringan internet kabel (seperti Indihome dan sejenisnya) yang distribusinya belum merata ke seluruh pelosok desa. Bagi warga yang membutuhkan koneksi internet berkecepatan tinggi untuk bekerja, belajar, atau berkreasi, ini jelas menjadi hambatan yang cukup penting dan perlu dicarikan solusi bersama.
Begitulah hidup. Ia memiliki dua sisi mata uang. Meskipun memiliki banyak kekurangan, namun tinggal di Desa Dempo Barat bisa menjadi tempat istirahat yang nyaman bagi kita yang mungkin sudah penat dengan jalanan macet di kota-kota besar.


Post a Comment