Stop Lakukan! 5 Perawatan Motor yang Justru Kurang Berguna.
5 Perawatan Motor yang Justru Kurang Berguna - Ketika baru membeli motor impian, rasanya pasti ada kepuasan yang luar biasa. Selain rasa bangga, biasanya muncul keinginan agar motor kesayangan kita selalu tampil prima, awet, dan performanya tetap seperti baru keluar dari diler. Hal ini sangat wajar!
Namun, berkat adanya media sosial, banyak sekali berseliweran tips dan trik perawatan motor yang mengklaim bisa memberikan hasil instan atau lebih efisien. Sayangnya, tidak semua tips tersebut bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Beberapa di antaranya justru menyesatkan dan berpotensi merusak kendaraan kita dalam jangka panjang.
Artikel ini akan membongkar 5 mitos perawatan motor yang sebenarnya kurang berguna, bahkan bisa berujung pada kerusakan mesin, mengacu pada penjelasan teknis dari channel YouTube FUSE BOX MOTO - 5 Perawatan Motor yang kurang berguna. Mari kita bahas satu per satu!
5 Perawatan Motor yang Justru Kurang Berguna dan Menyesatkan
1. Servis Throttle Body
Menurut buku manual pabrikan, servis throttle body (TB) idealnya dilakukan setiap interval 10.000 hingga 15.000 km untuk menjaga tarikan motor tetap responsif. Servis yang benar mengharuskan mekanik membongkar komponen tersebut.
Namun, ada praktik jalan pintas di beberapa bengkel yaitu dengan cara menyemprotkan cairan injector cleaner langsung ke mulut throttle body sambil motor digeber kencang.
- Dampak Buruk: Cara instan ini memang membuat TB terlihat bersih di luar, tetapi kotorannya tidak benar-benar hilang. Kotoran dan residu tersebut justru terdorong masuk dan menumpuk di ruang bakar. Lama-kelamaan, tumpukan kerak ini bisa menyebabkan knocking (mesin ngelitik), tabrakan seher, hingga akhirnya terpaksa turun mesin. Jika ingin membersihkan TB, pastikan dibongkar dengan benar meski memakan waktu lebih lama.
2. Menggeber Motor Setelah Dicuci
Mencuci motor minimal seminggu sekali adalah langkah wajib agar kotoran tidak menumpuk dan merusak part luar, seperti bikin baret as sokbreker. Setelah dicuci, tentu area mesin akan basah.
Kebiasaan buruk yang sering terjadi adalah pemilik motor langsung menyalakan mesin dan menggebernya sampai limiter dengan alasan ingin cepat membuang sisa air cucian.
- Dampak Buruk: Mesin motor sudah didesain sedemikian rupa agar kedap dan tahan air cucian. Menggeber motor sekencang-kencangnya justru berbahaya. Setelah dicuci, suhu mesin turun drastis alias dingin. Memaksa komponen mesin yang masih dingin untuk langsung bekerja keras (berputar di RPM tinggi) akan membuat mesin stres dan mempercepat keausan komponen internal. Cukup nyalakan motor dan diamkan sejenak, atau langsung bawa jalan santai saja.
3. Memakai Busi Racing
Banyak yang mengira bahwa mengganti busi bawaan pabrik dengan busi racing akan otomatis mendongkrak performa motor harian. Sesuai namanya, busi racing dirancang khusus untuk motor balap.
- Dampak Buruk: Motor balap memiliki rasio kompresi mesin yang sangat tinggi, sehingga membutuhkan busi dengan karakter rentang panas yang lebih dingin (cold spark plug). Jika busi racing dipasang di motor standar, proses pembakaran justru menjadi tidak optimal. Akibatnya, akselerasi mesin terasa tidak stabil, motor sering "brebet", dan ujung busi akan sangat cepat menghitam karena penumpukan karbon. Inilah sebabnya umur busi racing di motor harian terasa sangat pendek.
4. Menggunakan Oli Diesel atau Minyak Goreng
Pernah mendengar fenomena viral penggunaan "oli sesat"? Beberapa komunitas merekomendasikan penggunaan oli mesin diesel pada motor dengan dalih kandungan deterjennya yang tinggi mampu merontokkan kerak dan membersihkan dalaman mesin layaknya motor baru.
- Dampak Buruk: Oli diesel memiliki karakter viskositas (kekentalan) yang berbeda dari oli motor. Apalagi untuk motor matic modern seperti Vario 125, PCX 160, atau jajaran skutik yang menggunakan mesin 155 VVA, celah komponen internal dan dinding silindernya dirancang sangat rapat. Menggunakan oli kental seperti oli diesel membuat sirkulasi pelumasan menjadi lambat saat mesin dingin. Tarikan awal motor akan terasa sangat berat, dan karena oli terlambat naik, gesekan antar komponen justru meningkat dan bisa menggerus dinding piston. Gunakan saja oli orisinal sesuai spesifikasi pabrikan dan ganti secara rutin.
5. Menyemprot Angin Kompresor Saat Ganti Oli
Bagi kita yang sering mengganti oli di bengkel umum, perhatikan hal ini. Sering kali, setelah baut pembuangan oli dibuka, mekanik akan memasukkan slang angin kompresor bertekanan tinggi ke lubang pengisian oli. Niatnya baik, agar sisa-sisa oli kotor dan endapan di dasar mesin cepat terkuras habis.
- Dampak Buruk: Angin dari tabung kompresor mengandung uap air. Jika uap air ini menempel di dalam ruang mesin dan bercampur dengan oli baru, kualitas dan daya pelumasan oli akan menurun drastis. Selain itu, tiupan angin kencang bisa mendorong kotoran dari area filter oli kembali masuk ke sela-sela mesin yang sempit.
- Tips Tepat: Waktu paling ideal untuk mengganti oli adalah di pagi hari saat mesin belum dinyalakan. Seluruh oli masih mengendap di bak karter (bawah), sehingga saat baut dibuka, oli kotor akan terkuras maksimal secara alami tanpa perlu bantuan angin kompresor.
Rawatlah Motor Sesuai Standar Buku Manual
Niat hati ingin merawat motor agar awet dan kencang, namun jika caranya salah, justru kita akan keluar duit banyak karena harus memperbaiki kerusakan mesin. Jangan mudah tergiur dengan tips dan trik perawatan yang tidak berdasar atau saran bengkel yang tidak bertanggung jawab. Jadikan buku manual sebagai pedoman utama dalam merawat kendaraan kesayangan kita.
FAQ Seputar Perawatan Motor (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Apa bahayanya cairan injector cleaner yang masuk ke ruang bakar?
- Akan meninggalkan sisa kerak kotoran yang menumpuk di area piston dan klep. Dalam jangka panjang, tumpukan karbon ini berpotensi besar menyebabkan mesin mengalami knocking (ngelitik).
Kapan waktu paling ideal untuk mengganti oli motor?
- Di pagi hari sebelum motor dipanaskan atau digunakan beraktivitas, karena seluruh volume oli masih mengendap sempurna di bagian bawah mesin.
Apakah motor standar dilarang menggunakan busi racing?
- Sangat tidak disarankan. Spesifikasi pembakaran dan rasio kompresi motor harian berbeda dengan motor balap. Menggunakan busi racing justru membuat performa motor tidak stabil dan busi cepat mati karena kotor.
Pernah melihat mekanik bengkel menyemprot ruang oli motor kita dengan angin kompresor? Atau pernah iseng coba-coba pakai oli diesel?
Yuk, bagikan artikel ini ke grup WhatsApp komunitas motor atau teman riding kita agar mereka tidak melakukan kesalahan yang sama! Dari kelima poin di atas, perawatan salah mana yang pernah kita alami?
Ceritakan pengalaman anda di kolom komentar di bawah, ya!

Post a Comment