Sebuah Perpisahan

Table of Contents
Cerpen Yang Menceritakan tantang Sebuah Perpisahan Sepasang Kekasih.
Gambar : Gemini

Satu persatu buku itu kupindahkan dari tempatnya ke dalam kardus. Lemari tempat semestinya menaruh pakaian milikku sejak lama telah beralih fungsi menjadi perpustakaan mini. Baju-bajuku mulai terdesak keberadaannya. Dengan selektif aku memilih beberapa judul saja untuk dibawa pulang ke rumah. 

"Mau ke mana?" Tanya laki-laki di belakangku.

"Aku mau pulang. Aku harus pergi secepat mungkin dari kota ini." Jawabku sambil mengemasi baju.

"Kok, mendadak. Kenapa ga nunggu besok aja?" Inunk, temanku mencari kepastian. 

"Apa yang menahanku agar tetap tinggal di kota ini sudah pergi", selain sibuk merapikan barang bawaan, tanganku juga punya tugas tambahan membersihkan air mata.

Perlahan titik-titik kecil mulai mendarati pipiku membentuk dua buah saluran di bawah mata. Sedapat mungkin kuredam agar tak menerbitkan suara yang bisa menimbulkan penilaian terhadapku sebagai lelaki yang lemah. 

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan untuk kesembuhan lukamu", Lelaki itu pun pergi seakan mengerti aku hanya ingin seorang diri. 

Segalanya menjadi serba sulit. Kota Malang yang menyenangkan seketika berubah menyebalkan. Kota yang selalu membuatku betah sekarang begitu gerah. Cuaca dingin kebanggaanku seketika mendidihkan amarah, mataku merah membuang cairan dari kelopaknya yang bernanah. 

Pintu dan jendela ventilasi kamar segera kututup rapat-rapat. Satu-satunya yang ingin kudengar hanya suara isak tangisku dan membaginya pada keheningan. Dadaku luka ditikam tusukan kata-kata ketika hatiku di puncak paling puncak mahagila. 

"Kenapa secepat ini?" Pertanyaan itu menyebar menguasai seluruh penjuru saraf kepalaku.


***

Gadis di sampingku masih juga mematung sejak aku tiba. Gurat-gurat ceria dan ekspresi bahagia tak tampak pada wajahnya. Aku tahu dia tak mau sedikit pun menyembunyikan kekesalannya. Semuanya bermula dari percakapan pribadi antara aku dan Fitriya.

"Bisa kita bicara baik-baik?" Kuberanikan mengawali percakapan.

"Aku hanya sedang kehilangan selera karena beberapa hal. Tapi aku tak bisa mengatakannya. Maaf !" Gadis itu memohon.

"Dalam beberapa hal mungkin aku memang salah", perasaan yang tertahan selama berhari-hari itu akhirnya kuluapakan di depannya dengan bahasa penuh kehati-hatian. "Tapi, didiamkan seperti ini sungguh tidak lucu. Kita seperti membangun sebuah tembok besar di antara kita. Saling tidak bicara, sinis dan dingin". Aku menyambung. 

"Jika memang ini tidak lucu, bagaimana kalau kita akhiri saja mas?" Tubuhku seketika kaku.

"Aku tidak mau! " Mataku berkaca-kaca.

"Apakah kau mau bertahan mencintai seseorang yamg sudah hilang perasaannya sama sekali, mas? Biar kupersingkat bahasaku. Perasaan ini mengalami Ilfeel yang tidak akan pernah ada obatnya". 

"Kenapa secepat ini? Kenpa begitu mudahnya seperti kau menukas tali layang-layang? Jika memang aku salah. Katakan di mana salahku". Aku mulai terbawa emosi. Dadaku timbul tenggelam. 

"Seharusnya kau belajar pada kesalahan pertama, mas. Aku tak akan membeberkan kesalahanmu di mana untuk yang kedua kalinya". Dia bertahan dengan pendiriannya.

Dia yang kuagung-agungkan serupa berhala, kupuju ibarat bunga lewat wangi puisi dan semerbak kata-kata, kupinta sesungguhnya sungguh dalam do'a, kurindukan selalu sebanyak detak nadi, gagal kumenangkan, gagal kuperhatahan karena luka memintanya atas nama jeda dan pisah sebagai ujung cerita.

Pisah, adalah sebuah jalan yang memberi jarak berlainan untuk ditempuh. Dilatar belakangi oleh perbedaan cara pandang dan perasaan yang sudah tak sealur sepemikiran. 

"Baiklah, kulepas dirimu dari keterikatanku. Terima kasih atas semua waktu luangmu, dan segala kebaikanmu. Maafkan aku. Karena kau tak menemukan lelaki yang kau cari", Aku menutup pembicaraan. Berdiri lalu kemudian pergi. 

Dengan perasaan remuk hancur aku pergi meninggalkan sebuah kosan. Diantar hujan sepanjang jalan dengan air mata yang tak mampu kutahan.

 

Pamekasan, 18 Juni 2016

Post a Comment