Jejak Keraton dan Masjid Agung Sumenep.
![]() |
| generated with gemini |
Bicara Madura, apa hal pertama yang terlintas di benak kita ketika mendengar nama tersebut? Sebagian besar dari kita pasti langsung teringat pada megahnya Jembatan Suramadu, atau mungkin kelezatan kuliner khasnya seperti sate, soto, hingga bebek bumbu hitam. Padahal, pesona Madura jauh lebih luas dari sekadar itu!
Tahukah kita bahwa pulau di sebelah timur Pulau Jawa ini sebenarnya memiliki 128 pulau? Yang lebih mengejutkan lagi, satu-satunya keraton di wilayah Provinsi Jawa Timur yang masih berdiri tegak ternyata ada di sini, tepatnya di Kabupaten Sumenep. Menginjakkan kaki di kota ini seolah membawa kita masuk ke mesin waktu.
Yuk, kita mulai petualangan menelusuri sejarah unik di ujung timur Pulau Garam ini!
Mengungkap Sejarah di Keraton Sumenep
Begitu tiba di pusat kota Sumenep, destinasi pertama yang wajib kita kunjungi tentu saja keratonnya. Ini adalah satu-satunya keraton di Jawa Timur yang wujudnya masih utuh dan asri. Dibangun pada tahun 1762 oleh Raja ke-31, Panembahan Somala, keraton ini dulunya merupakan pusat pemerintahan sekaligus denyut nadi kehidupan masyarakat Sumenep pada masanya.
Harga Tiket Masuk dan Aturan Berkunjung
Untuk menikmati sekeping sejarah ini, kita tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Di loket museum, kita cukup membayar tiket seharga Rp 10.000 per orang. Satu tips penting untuk kita: sangat disarankan untuk menggunakan jasa tour guide lokal. Bayarannya seikhlasnya, namun penjelasan mereka akan membuat setiap sudut keraton yang kita lihat memiliki cerita yang hidup dan bermakna.
Filosofi Labeng Mesem (Pintu Senyum)
Langkah pertama kita akan disambut oleh gerbang utama yang sangat ikonik bernama Labeng Mesem, yang dalam bahasa setempat berarti Pintu Tersenyum. Nama ini bukan tanpa alasan. Konon, di masa lampau, setiap tamu yang hendak menghadap raja akan disambut oleh para prajurit penjaga dengan penuh keramahtamahan dan senyuman. Sampai hari ini, pintu kayu yang kokoh itu masih menggunakan bahan kayu asli.
Museum Keraton dan Peninggalan Para Raja
Memasuki area museum, kita akan dibuat takjub oleh berbagai artefak peninggalan masa lalu yang masih tersimpan rapi:
- Raja ke-30 (Bindara Saod): Beliau dikenal memiliki keistimewaan karena dipercaya sudah bisa berbicara (menyaut) sejak masih berada di dalam kandungan. Kita bisa melihat tempat tinggal sementaranya yang dibangun pada tahun 1750, yang dikenal dengan nama Rumah Penyepen.
- Sultan Abdurrahman (Raja ke-32): Raja yang satu ini memiliki rekam jejak yang luar biasa. Beliau berhasil menulis Al-Quran 30 Juz secara lengkap hanya dalam waktu semalam (sekitar 12 jam) pada tahun 1811.
- Kereta Kerajaan: Kita juga bisa melihat langsung kereta kuda megah yang merupakan hadiah dari Gubernur Inggris, Stamford Raffles, pada tahun 1812.
- Koleksi Bersejarah Lainnya: Ada koleksi keramik berusia ratusan tahun (dari abad ke-16) yang didatangkan dari Cina dan Thailand. Selain itu, terdapat senjata tombak prajurit hingga alat upacara Pelet Kandung, sebuah tradisi syukuran untuk usia kandungan 7 bulan.
Mitos 3 Pintu di Taman Sare
Petualangan di keraton belum lengkap kalau kita tidak mampir ke Taman Sare. Tempat ini dulunya adalah area pemandian khusus untuk permaisuri dan para putri raja. Di sini terdapat kolam dengan tiga pintu masuk yang masing-masing menyimpan mitos unik:
- Pintu Pertama: Diyakini mempermudah pengunjung dalam urusan jodoh dan keturunan.
- Pintu Kedua: Dipercaya membawa keberkahan untuk peningkatan karir dan kepangkatan.
- Pintu Ketiga: Diperuntukkan bagi mereka yang ingin mempertebal iman dan takwa.
Hingga kini, banyak pengunjung yang turun ke bawah untuk sekadar membasuh wajah, tangan, atau kaki di kolam ini.
Eksotisme Arsitektur Masjid Agung Sumenep (Masjid Jami')
Setelah puas berkeliling keraton, kita cukup berjalan kaki menyeberangi alun-alun kota untuk tiba di Masjid Agung Sumenep atau Masjid Jami'. Dari kejauhan, kemegahannya sudah memanjakan mata. Arsitektur masjid ini sangat istimewa karena merupakan hasil akulturasi dari berbagai budaya dunia, mulai dari gaya Persia, Eropa, Jawa, Islam, hingga sentuhan khas Tiongkok.
Tembok Depan Mirip Tembok Raksasa Cina
Hal yang paling mencolok saat kita berdiri di depan masjid ini adalah tembok dan pintu gerbangnya. Desainnya sangat tebal dan gagah, mengingatkan kita pada arsitektur Tembok Raksasa Tiongkok. Di bagian atas gerbang, terdapat dua buah lubang yang melambangkan sepasang mata dan telinga—sebuah filosofi bahwa masjid selalu mengawasi dan mendengar doa-doa umatnya.
Lau Piango: Sang Arsitek Keturunan Tionghoa
Di balik kemegahan masjid ini, ada sosok arsitek hebat bernama Lau Piango (dari marga Lau atau Liu). Sejarah mencatat bahwa kakeknya, Lau Kunting, terpaksa melarikan diri dari Batavia akibat konflik dengan VOC, lalu singgah di Lasem (Semarang), hingga akhirnya menetap di Madura. Kehadiran Lau Piango membuktikan bahwa sejak dulu, Sumenep adalah kota yang sangat terbuka dan menghargai keragaman etnis.
Menziarahi Makam Lau Piango di Sumenep
Rasa penasaran membawa kita menelusuri jejak Lau Piango lebih jauh. Kita bisa mengunjungi makamnya yang berlokasi tak jauh dari Pasar Pamolokan, area yang oleh warga lokal kerap disebut "Pasar Kuburan".
Di kompleks pemakaman etnis Tionghoa tersebut, makam sang arsitek menjadi satu-satunya pusara yang batu nisannya masih murni menggunakan aksara Mandarin (tertulis: Lau Giok San). Berdiri di depan makam ini membuat kita merenungi betapa kuatnya ikatan akulturasi dan toleransi yang telah lama berakar di tanah Sumenep.
Rekomendasi Kuliner Setelah Lelah Berkeliling
Setelah seharian berjalan kaki menjelajahi waktu, perut kita pasti mulai keroncongan. Tenang saja, Sumenep punya banyak pilihan kuliner yang siap memanjakan lidah kita:
- Soto Madura dan Soto Babat: Cocok untuk menghangatkan badan. Kuahnya yang kaya rempah benar-benar autentik.
- Bebek Bumbu Madura: Ini hal yang menarik! Ternyata, tidak semua kedai bebek di Madura menggunakan "bumbu hitam" pekat seperti yang sering kita temui di kota-kota lain. Rasanya tetap juara dan porsinya cukup untuk mengganjal perut kita yang kelaparan.
- Ikan Bakar Laut: Saat malam tiba, kita bisa meluncur ke area tambak pinggir jalan untuk menikmati seafood segar. Menu bawal dan kakap merah bakar di sini benar-benar memuaskan, apalagi disantap dengan sambal kecap pedas.
Kota Sumenep ini menawarkan ketenangan yang jarang kita temukan di hiruk-pikuk kota besar. Bahkan, suasananya yang sepi dan asri sering kali terasa seperti suasana di kota-kota di luar negeri. Perpaduan wisata yang kaya akan sejarah di Keraton, akulturasi arsitektur yang megah di Masjid Agung, serta keramahan masyarakatnya membuat Sumenep menjadi destinasi yang sangat layak kita kunjungi.
Sudah siap menelusuri sejarah unik di Sumenep, Madura? Jangan lupa bagikan artikel ini ke teman traveling kamu dan tinggalkan komentar jika kamu punya pengalaman serupa saat ke Madura!
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Di mana letak Keraton Sumenep?
Keraton Sumenep terletak di Kabupaten Sumenep, Madura, Provinsi Jawa Timur. Keraton ini berada di dekat alun-alun kota dan berseberangan langsung dengan Masjid Agung Sumenep.
2. Berapa harga tiket masuk ke Museum Keraton Sumenep?
Harga tiket masuk loket adalah Rp 10.000 per orang. Kita juga sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal dengan biaya sukarela agar mendapatkan informasi yang lengkap.
3. Siapa arsitek Masjid Agung Sumenep?
Masjid Agung Sumenep (Masjid Jami') dirancang oleh Lau Piango, seorang arsitek keturunan Tionghoa. Desain rancangannya memadukan unsur Persia, Eropa, Tiongkok, Islam, dan Jawa.
4. Apakah Taman Sare di Keraton Sumenep boleh digunakan untuk mandi?
Saat ini, pengunjung biasanya hanya diperbolehkan turun ke tangga bawah untuk sekadar mencuci tangan, kaki, atau membasuh muka di ketiga pintunya yang diyakini memiliki mitos keberkahannya masing-masing.


Post a Comment