Skip to main content
BLOGAZKA

follow us

Sangsi Terbaru Jika Terlambat Membayar Iuran BPJS kesehatan

Teringat akan satu peribahasa "Besar pasak daripada tiang" yang artinya lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan, Mungkin istilah tersebut saat ini pantas di tujukan untuk BPJS kesehatan yang hampir bangkrut.

Banyaknya peserta JKN-KIS/BPJS kesehatan yang menunggak iuran membuat badan penyelenggara jaminan sosial bentukan pemerintah ini dalam laporan setiap tahunnya selalu defisit. Sehingga pemerintah berencana menaikkan iuran bulanan dengan besaran nilai yang tak masuk akal menurut banyak kalangan.

Dengan kenaikan hingga 100% untuk kelas 1 dan 2 sedangkan untuk kelas 3 naik 80% yang rencananya akan efektif diawal tahun 2020 nanti. Karena dengan premi yang ada saat ini saja masih banyak peserta yang nunggak apalagi kalau di naikan.

BPJS kesehatan mengklaim setiap tahunnya selalu berusaha meningkatkan pelayanan jaminan kesehatan. Namun tidak di barengi oleh kesadaran pesertanya dalam membayar iuran. Karena masih banyak peserta yang lalai akan kewajiban membayar premi BPJS kesehatan per bulannya.

Kritikan buat peserta yang menunggak, untuk apa membanggakan BPJS kalau rutin bayar iuran di saat akan dibutuhkan layanannya saja, Seperti ada salah satu anggota keluarga yang sedang sakit atau untuk persalinan sang istri yang beberapa bulan lagi akan melahirkan.

Tapi ketika layanan BPJS tidak dibutuhkan seolah lupa akan manfaat yang pernah dirasakan dan mengabaikan kewajiban sehingga menunggak iuran berbulan-bulan.

Kritikan buat pemerintah, mengapa harus menaikkan iuran premi BPJS kesehatan hingga dua kali lipat dan kenapa pula kerugian BPJS kesehatan selama ini harus di tanggung oleh semua peserta termasuk oleh peserta yang selalu bayar premi tepat waktu dengan menaikkan iuran yang tinggi.

Peserta BPJS Kesehatan mandiri pantas kalau mengatakan tak sanggup membayar iuran karena mahal apalagi tidak pernah digunakan, Tapi harus ingat akan manfaat yang akan di rasakan ketika berobat atau di rawat di rumah sakit rujukan.

Karena sejatinya jaminan kesehatan bukan hanya dibutuhkan ketika ada yang sakit saja, akan tetapi sebagai asuransi kesehatan untuk melindungi keluarga ketika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bermacam kebijakan telah diterapkan BPJS kesehatan agar peserta rutin membayar premi BPJS kesehatan tepat waktu. Seperti dengan denda administrasi hingga sangsi penonaktifan layanan.

Sejak 1 Juli 2016 pengenaan denda 2% di kali jumlah bulan yang menunggak telah dihapuskan. Sedangkan denda yang berlaku saat ini, jika peserta terlambat membayar lebih dari 1 (satu) bulan sejak tanggal 10 jatuh tempo, maka status kepesertaannya menjadi tidak aktif.

Lalu Bagaimana cara mengetahui jumlah tunggakan JKN-KIS / BPJS kesehatan ? dan detail sangsi untuk keterlambatan pembayaran iuran. Pada artikel ini akan saya ulas tuntas, di sertakan juga gambar screnshootnya yang diambil dari aplikasi Mobile JKN agar mudah untuk di pahami.

Apabila sudah terlanjur menunggak dan ingin mengetahui rincian denda atau sangsi yang di terimanya. Caranya sangat mudah bisa di lihat melaui aplikasi Mobile JKN. Pada artikel sebelumnya saya menulis cara mengakses informasi Kepesertaan JKN-KIS silahkan di baca untuk cara mendaftarnya.

Login di aplikasi Mobile JKN fitur yang tersedia Peserta, Tagihan, Pelayanan, dan Umum. Untuk melihat status kepesertaan, masuk ke menu > Peserta lihat notifikasi yang tertera jika centang warna hijau pertanda kepesertaan aktif. contoh gambar diatas ini.

Namun apabila notifikasi X (kali) berwarna merah artinya peserta yang bersangkutan telah di non-aktifkan dengan alasan NON AKTIF KARENA PREMI atau menunggak iuran.

Seperti contoh pada gambar diatas ini jumlah keseluruhan 5 peserta, 4 peserta non aktif karena premi dan 1 peserta di non-aktifkan karena sudah dilaporkan meninggal dunia

Lalu cara mengetahui jumlah iuran yang tertunggak, di aplikasi Mobile JKN silahkan masuk ke menu tagihan lalu buka fitur > Premi, akan terlihat seperti contoh kasus pada gambar diatas ini. Peserta kelas 3 berjumlah 4 orang menunggak iuran selama 3 bulan, Rp 25.500/orang x 3 = Rp 76.500 x 4 = Rp 306.000.

Kemudian setelah peserta melakukan pembayaran sebesar Rp 306.000, maka ketika dilihat pada fitur Premi pada aplikasi Mobile JKN semua tunggakan sudah terlunasi dan tidak ada biaya denda apapun.

Tapi ketika dilihat pada fitur peserta seperti contoh gambar diatas ini, Penonaktifan sudah di cabut dan status kepesertaan sudah aktif kembali. Namun terlihat sangsi yang di terima peserta yang menunggak iuran BPJS kesehatan.

Perhatikan tulisan dalam kotak berwarna merah. "Anda memasuki masa denda pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) mulai 30-08-2019 sampai 14-10-2019".

Pada kasus diatas ini membayar tunggakan tanggal 30 agustus 2019 dan sangsi berlaku hari itu juga. Tunggakan tentu akan bertambah besar jumlahnya jika pembayaran dilakukan 1 september dan seterusnya begitupun sangsi yang berlaku.

Dikutip dari panduan layanan JKN-KIS perihal denda pelayanan rawat inap tingkat lanjut, Apabila dalam kurun waktu 45(empat puluh lima) hari sejak status kepesertaan aktif kembali, peserta membutuhkan pelayanan rawat inap atau harus dirawat di rumah sakit maka akan dikenakan denda pelayanan.

Denda pelayanan berupa sangsi membayar sebesar 2,5% (dua koma lima persen) dari biaya rawat inap rumah sakit dikalikan dengan jumlah bulan yang tertunggak, dengan ketentuan:

  1. Jumlah bulan tertunggak paling banyak 12(dua belas) bulan.
  2. Besaran denda paling tinggi Rp30.000.000.00 (tiga puluh juta rupiah).

Untuk menghindari pengenaan denda dan sangsi pemutusan layanan kesehatan sebaiknya peserta JKN-KIS/BPJS kesehatan selalu membayar iuran tepat waktu yaitu sebelum tanggal 10 setiap bulannya.

Atau usahakan bayar iuran sebelum bulan yang sedang berjalan habis seperti di akhir bulan untuk menghindari jumlah tunggakan yang lebih besar.

Semoga Bermanfaat.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar